RSS Contact

Senin, 21 November 2011

Black Thunder

Chapter 17- minuman apa ini?

“sudah kuduga kau akan datang Roze.” Kata Kagero lega. “sudah diam diselamatkan oleh wanita, memalukan.” Kata Roze memaki. “sekarang saatnya Yasmay, Viola.” Perintah Roze kepada teman-temannya. “sial dia melarikan diri, rasakan ini.”

Dua akar menyerang Roze yang sedang membawa Kagero, akan tetapi. “Violet Contract, kunai Violet.” Dari arah timur datang serangan bunga Violet yang sangat banyak dan mematahkan akar-akar yang mengejar Roze. “jasmine Contract, aroma penidur.” 

Dari arah barat ada serangan bunga melati yang menyemburkan gas membuat mengantuk. “ sial ini gas penidur. Aku harus pergi sekarang.” Lalu Momo melemparkan dirinya sendiri dengan akarnya ke udara dan pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah itu Roze , Viola, dan Yasmay berkumpul. “ tadi itu bahaya sekali, jika kau tak datang aku akan mati, trimakasih banyak.” Kata Kagero berterimakasih. “pemuda tadi tampan juga cin,” kata Yasmay. “hentikan itu Yasmay cin itu musuh kita dan kau tak bileh suka padanya, kau mengerti cin?” kata Viola mengingatkan. “tapi sebenarnya siapa dia Kagero?” tanya Roze.

“dia adalah Momo van Kaak sang tawa pembunuh, dia dari pulau timur dan kabarnya dia membunuh semua orang yang dicelanya.” Jelas Kagero pada ketiga wanita. “mengerikan sekali cin, apalagi kalau kita berhadapan satu lawan satu dengannya kita bisa mati pastinya.” Kata Viola.

“sebenarnya apa yang dia cari di pulau ini?” tanya Roze. “sebenarnya aku juga tidak tahu pasti tapi mungkin dia mencari wanita penyelamat.” Jelas Kagero. Sesaat kemudian jam tangan Kagero berbunyi. “Kagero apa kau tidak apa-apa?” ternyata Furin yang menghubunginya.

“iya aku tidak apa-apa para pasukan Flower ninja membantuku.” Kata Kagero. “sekarang kalian harus segera menuju kemarkas ada hal yang penting ingin disampaikan Island Leader.” Suruh Furin. “baiklah kami kesana.” Dan meraka pergi meninggalkan tempat itu dan menuju markas.

Hari berikutnya. Di laboratorium tempat Bit tinggal. “kak Bit sarapannya sudah siap.” Steve memanggil Bit yang sedang tidur. “huaaaah... ngantuknya.” Bit yang masih mengantuk dan berjalan kemeja makan, lalu dia mengambil makanan yang ada dan sial nasib Bit berhubung dia masih ngantuk dia salah mengambil air minum yang sebenarnya adalah bahan kimia buatan Steve.

Setelah selesai makan, Bit meminum air tadi. “minuman ini terasa aneh sekali. Steve kau memberikan ap.....” belum selesai Bit berbicara dia lalu tersungkur dari kursi meja makannya. Tubuhnya gemetar dan mengejang, semua ingatan masa lalunya terkenang kembali.

Bit yang dalam keadaan kejang perlahan-lahan terlelap matanya menutup dan dia masih membayangkan masa lalunya.

Pagi itu di hari yang sama di markas besar. “tuan apakah kita harus berdiam diri atas serangan kemarin.” Seorang pria dari anggota dewan berkata pada Phoenix. “kalian tak usah khawatir sudah ada jalan keluar atas masalah itu.” Phoenix berkata dengan santai. “dan apa jalan keluar tersebut?” Tanya seorang pria anggota dewan. Phoenix lalu tersenyum dan menjentikkan jarinya.

“masuklah Ken!” Ken kemudian masuk kedalam ruangan Island Leader. “ini dia jalan keluar kita. Perkenalkan dirimu Ken!” perintah Phoenix. Lalu ken memperkenalkan dirinya. “aku pasukan Teratai putih anggota divisi 6 pimpinan Frank. Namaku adalah Ken hoca koca.” Saat Ken selesai memperkenalkan dirinya datang Furin dan Kagero.

“lapor tuan Phoenix, dilaporkan oleh pasukan C bahwa Bit sedang dalam keadaan sekarat di laboratorium, tubuhnya mengeluarkan kilat hitam secara terus menerus, mohon ijin untuk efakuasi rahasia.”

Kagero meminta untuk mengefakuasi Bit. “permintaan diterima, segera lakukan efakuasi! Kagero kau memimpin efakuasinya perintahkan pasukan kelas B untuk mengamankan laboratorium! Dan Furin aku ada tugas untukmu.”
Chapter 18-Ibu
Kemudian Kagero segera pergi meninggalkan markas menuju laboratorium. Setelah sampai disana. Laboratorium yang beratapkan teleskop raksasa itu memancarkan petir hitam kearah langit, Kagero jadi cemas melihat keadaan ini. “sebenarnya apa yang terjadi disini?”

Segera Kagero masuk kedalam laboratorium, disana Bit sedang dalam posisi berdiri terlentang dan mengapung diudara, seluruh anggota tubuhnya bergantian menyambarkan petir kesegala arah, kepalanya mendongak keatas dan mulutnya terbuka menyambarkan petir besar kearah langit.

“ah tuan Kagero!” Steve berlari menghampiri Kagero dengan keadaan panik. “kenapa bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi katakan padaku!!” tanya Kagero.

“be...be...begini ceritanya, semalam aku membuat percobaan ramuan tentang penguat kekuatan Contract tingkat tinggi, ramuan tersebut bisa melipat gandakan kekuatan Contract penggunanya, tapi itu belum sempurna. Tadi pagi kak Bit pas makan salah mengambil air minum yg diambil bukan air tapi malah ramuanku jadinya seperti ini.” Jelas Steve panjang lebar.

Didalam diri Bit yang sedang mengalami kejadian aneh, dia memikirkan dan mengingat-ingat masa kecilnya dimana ia diasuh oleh Zai. Ditaman bermain di desa Clamour. “ayah apakah punya ibu itu menyenangkan yah?” tanya Bit kecil pada ayahnya yang sedang melihat anak-anak bermain dengan ibu mereka.

“apakah kau ingin tau Bit?” tanya ayahnya kembali. “iya ayah aku ingin punya ibu.” Kata Bit kecil. “Ibu adalah seorang wanita yang paling baik didunia ini, di saat kita dekat dengannya kita akan merasa hangat jika kita didekatnya apalagi kalau...” “ayah apakah aku punya ibu?” Bit kecil bertanya pada ayahnya yang sedang bicara.

“pasti semua orang punya nak, aku, kau, burung-burung diatas, atau tupai dipohon itu, semua punya ibu.” Jelas Zai sambil menunjukan Bit keadaan sekitar. “jadi siapa ibuku yah?” Zai terdiam sesaat saat Bit menanyakan hal tersebut. Sambil tersenyum menatap langit Zai menjawab.

“kau pasti akan mengetahuinya Bit suatu saat nanti tapi bukan hari ini.” Mereka lalu berjalan bergandenagn dan pulang kerumah. Di perjalanan Zai bertanya pada Bit. “Bit apakah cita-citamu suatu saat nanti?” “aku tidak punya cita-cita ayah.” Jawab Bit. “sebaiknya kau punya cita-cita Bit agar hidupmu jadi berarti.” Saran Zai pada Bit.

“begitu ya? Baiklah sudah kuputuskan, cita-citaku adalah bertemu ibu.” Zai senang Bit kini punya cita-cita dan untuk mempermudah mencapai cita-cita Zai memberi petunjuk untuk Bit. “jika itu cita-citamu Bit akan kuberi kau sedikit petunjuk, ibumu sekarang berada di pulau yang mengapung diudara.”

Creeettt.... creeeettt.... petir semakin menjadi-jadi menyambar ruangan laboratorium. Lama-kelamaan rambut Bit yang semula ungu berubah menjadi putih, Matanya hanya putih tak berpupil, kuku-kukunya mulai menjadi panjang dan gigi taringnya juga memanjang.

Melihat keadaan semakin memburuk Kagero mulai memikirkan sesuatu. “hai Steve bukankah Bit mempunyai pedang Zero?” tanya Kagero. “iya dia punya, pedangnya ada dilantai atas tetapi untuk kesana kita harus melewati kak Bit terlebih dahulu.” Jawab Steve. “aku tidak bisa menggunakan bayanganku dilantai atas nanti aku akan jatuh jika masuk dalam bayangan.”

Tiba-tiba Kagero merasakan sesuatu. “apa..!? aku harus segera pergi dari sini.” Kagero dengan tergesa-gesa meninggalkan laboratorium. “tuan kau mau kemana? Kenapa dia malah pergi ya?” Setelah Kagero pergi kemudian Steve menggunakan daya otaknya untuk memecahkan masalah dan mulai berpikir.

Tak jauh dari laboratorium Don sedang mendorong grobak mie ayamnya menuju tempat dagangnya dan dia melihat kilat hitam yang dipancarkan Bit. “Ternyata benar bocah itu ya.” kata Don sambil memberhentikan grobaknya. “hai kau, segera pergi dari sini ini daerah bahaya!” kata pasukan keamanan pulau Currant.

“baiklah tuan aku hanya ingin istirahat. Mau mie ayam pak?” Don menawari mie ayam pada PKPC. “tidak nanti saja, sana pergi!” suruh PKPC. Lalu Don pergi dari tempat itu.

Kembali diwaktu dimana Furin diberi tugas oleh Phoenix. “Ken dan kau Delta keluar dari ruanganku.” Phoenix menyuruh Ken dan Delta dari anggota dewan keluar agar dia bisa memberikan tugas rahasia kepada Furin.

“Furin, kau adalah satu-satunya yang bisa menggunakan lorong perpindahan dipulau ini benar kan?” tanya Phoenix. “benar tuan hanya saya saja yantg tau tehnik ini karna tehnik ini adalah tehnik khusus dari klan kami. Lantas apa perlu tuan denganku?” kemudian Phoenix mengeluarkan sebuah buku kecil dan menunjukannya ke Furin.

“ini lihatlah!” suruh phoenix. “maaf tuan apakah kau menyuruhku melihat foto gadis telanjang ini?” tanya Furin bingung. Phoenix kaget dan segera membuang buku itu. “hehe maaf tadi itu buku playboy untuk hiburan semata.” Furin bingung melihat kelakuan si Island Leader yang satu ini.

“ini dia buku catatan William Zai. Coba baca halaman ke 69.” Kemudian Furin mengambil buku itu dan membaca sedangkan Phoenix menyembunyikan buku-buku playboynya. “Baca dengan keras nak!” bentak Phoenix

“baiklah tuan, disini tertulis dimalam penyerangan terakhir dipusat para pengguna Contract kegelapan, kugunakan Earth spirit dan menghancurkan seluruh pasukan musuh. Pada saat aku masuk ketenda dimana pemimpin musuh berada aku terkejut tidak ada siapa-siapa dan hanya ada bayi laki-laki menangis, lalu aku putuskan untuk mengambilnya dan saat aku keluar dari tenda ada seorang laki-laki dengan tinggi 3 meter didepanku. Di halaman ini hanya tertulis demikian tuan.” Kata Furin selesai membaca.
Chapter 19- Mata hijau
Sementara Furin dan Phoenix membaca buku catatan Zai, Bit yang sedang mengalami kejadian aneh dilaboratorium mengalami perubahan bentuk fisik, oto-otot Bit mulai keluar, mata yang semula tak berpupil kemudian muncul pupil mata yang berwarna hijau tua yang menyeramkan, dipunggungnya ada sesuatu yang mencoba keluar dari dalam kulit.

“gawat sekali apa yang harus aku lakukan? Keadaan semakin buruk.” Kata Steve panik. Ditengah kepanikannya Steve baru ingat kalau dia bisa berteleportasi. “ oh iya aku akan berteleportasi saja, tapi jika aku berteleportasi ¾ rohku tersedot. Mmmm baiklah tidak apa-apa demi Kak Bit.

“Mind Contract, Teleport.” Sekejap saja Steve sudah sampai dilantai atas dan ia langsung mengambil pedang Zero milik Bit dan menuju kebawah. Sesampainya dibawah Steve kaget melihat sudah tidak ada petir lagi.

Disana ia melihat Bit sedang tersungkur terengah-engah, tanpa pikir panjang Steve segera menghampiri Bit dan ingin menolongnya. Steve berlari menghampiri Bit dan berharap Bit tidak apa-apa, sesampainya di dekat Bit, Steve merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“hawa apa ini? Tiba-tiba aku merasa takut, dingin sekali disini aku akan membawamu keatas kak.” Steve memegang pundak Bit, mendadak Steve kaget karna yang dipegangnya bukan Bit tapi sesuatu yang merasuki Bit tadi, walau rambutnya Bit sudah menjadi ungu kembali tapi mata hijau seramnya masih ada dan mata itu menatap Steve dengan tajam.

Steve tak bisa bergerak melihat mata Bit yang sangat seram memutuskan untuk berteriak meminta pertolongan. “Tttoooolllooonnnggg.....!” teriak Steve ketakutan.

“diam kau bocah bodoh!” bentak Bit yang sedang kerasukan. Steve lalu diam dan tertegun mendengar bentakan Bit. “si..si..siapa kau sebenarnya? Kau bukan kak Bit.” Tanya Steve. “siapa aku? siapa aku kau bilang? Aku adalah... ah!? Dia kembali agh...agh...!!” kata Bit bingung dan kembali mengejang.

Petir kembali keluar dari dalam tubuhnya dan ia kembali melayang dan pupil matanya yang hijau hilang. Di ruangan Phoenix. Furin telah selesai membaca buku catatan Zai dan menutup buku itu. “baiklah aku sudah selesai membaca, mungkin ini cara satu-satunya untuk mengetahui Bit itu istimewa dari yang istimewa. Aku akan berangkat dan mengajak gadis itu.” Kata Furin yang kemudian segera pergi.

“semoga yang ditulis Zai itu benar, jika tidak habislah riwayat Bit.” Kata Phoenix sambil melihat kearah laboratorium yang masih memancarkan petir hitam kelangit. Tanpa diduga Ken masuk kedalam ruangan dan bertanya pada Phoenix.

“maaf tuan aku masuk secara diam-diam, tapi aku ingin bertanya tentang bocah yang mengeluarkan petir hitam itu, bukankah dia anak dari W. Zai rock?” “benar. langsung saja kepusat masalah saja aku masih banyak urusan.” Jawab Phoenix. “begini tuan, bukankah para pengguna Contract hitam tidak bisa terlahir dari Contract alami seperti Contract batunya Zai? Lalu dimana mayat Zai yang mati karena serangan Barrock Rai? Harusnya masih ada walaupun hanya rambut atau serpihan kulit yang tak terkena laser, kalau aku bisa mendapat sedikit saja contoh sel dari Zai aku akan membawanya ke pulau cahaya untuk diteliti bagaimana seorang Contract alami dapat mempunyai keturunan Contract hitam. Anda pasti punya sedikit sel Zai tuan, aku mohon berikanlah padaku.” Pinta Ken.

“aku akan memberi sel Zai padamu tapi setelah kau mengalahkan Momo dan menyuruh anakku untuk mampir kepulau ini walau hanya sebentar, aku sangat merindukannya.”

Di laboratorium. Steve yang tadinya ketakutan berubah menjadi panik melihat Bit kembali mengeluarkan petir kesegala arah untuk yang kedua kalinya. “sebenarnya apa yang terjadi?”

Lalu Steve melihat pedang Zero yang tergeletak di lantai dan ia mengambilnya dan bertian menebas Bit dengan harapan akan menghentakan petir hitam yang dikeluarkan Bit. “maafkan aku kak Bit aku harus menebasmu demi kebaikanmu.” Kata Steve sambil berlari menghampiri Bit, tiba-tiba pusaran angin muncul di depan Steve dan membuatnya terpental.

“maaf ya Steve aku muncul terlambat.” Kata Furin yang keluar bersama Yoona dari lorong angin. “kenapa anda membawa Yoona tuan?” tanya Steve. “ini perintah dari tuan Phoenix.” Jawab Furin. Sementara Furin dan Steve berbicara, Yoona menangis melihat Bit dalam keadaan melayang dan mengeluarkan petir dari dalam tubuhnya.
Chapter 20- Tebasan
(cerita sebelumnya Bit yang semula sadar tapi tidak menjadi dirinya sendiri menyerang Steve, tetapi ia kembali melayang dan menyambarkan petir. saat Steve berusaha menolong Bit, Furin dan Yoona datang menolongnya, tetapi Yoona sedih melihat Bit dalam keadaan seperti itu.)

Melihat Yoona menangis Furin menenangkannya. “Yoona mungkin ini sulit bagimu, tapi jika kau tak melakukannya hal ini akan membuat Bit tersiksa dan kau tak mau kan dia tersiksa?” terang Furin sambil memegang pundak Yoona.

Lalu Yoona menjawab. “tapi aku belum tau cara melakukannya tuan, bahkan aku baru tau kalau aku ini sang pemegang kristal putih, dan bukankah jika aku melakukannya Bit tidak akan punya Contract lagi?” “yang kau katakan itu benar dan mungkin itu juga bisa terjadi, tapi lakukanlah saja Yoona daripada Bit mengalami hal seperti ini terus.” Kata Furin yang kemudian menjauh dari Yoona.

Yoona yang telah tenang kemudian maju mendekati Bit, sejenak ia menghadap kebelakang dan melihat Furin dan Steve dan mereka bersamaan menganggukan kepala untuk menyemangati Yoona. Kemudian Yoona kembali melanglkah maju dan mulai memejamkan matanya dan merentangkan kedua tangannya.

Cahaya putih yang menyilaukan keluar dari seluruh tubuh Yoona sesaat kemudian Yoona berjalan mendekati Bit sambil membuka matanya. tiba-tiba Yoona menjadi sasaran petir yang menyambar liar dan petir itupun mengarah tepat kemata Yoona.

Sesaat sebelum mengenai mata Yoona petir itu lenyap anehnya Yoona tidak merasa takut sama sekali. Setelah beberapa langkah Yoona telah sampai didepan Bit yang dengan mulut menganga mengeluarkan petir kearah langit dan sedang melayang terapung diudara.

Kemudian saat Yoona sudah dekat dengan Bit petir-petir yang menyambar liar tadi menghilang dan hanya ada lima jalur petir yang tersisa yaitu di kedua tangan, di kedua kaki, dan dimulut. Yoona kemudian ikut melayang hingga sejajar dengan Bit dan Yoona kemudian merentangkan tangannya kembali dan mulai bersinar terang menyilaukan mata.

“inikah ritual penghilangan Contract itu tuan? Bagaimana Yoona bisa tau caranya?” tanya steve pada Furin. “entahlah aku juga tidak tau tapi yang jelas tutupi matamu kalau tidak mau buta.” Suruh Furin.

Yoona yang sedang memancarkan sinar menarik tangan Bit yang sedang menyambarkan petir. “tuan bukankah seharusnya Contract kegelapan kak Bit sudah tersedot dari tadi? Tapi kenapa ia masih saja mengeluarkan petir hitam?” tanya steve heran. Lalu Furin menjawab.

“itulah yang ingin dicari tau tuan Phoenix tentang Bit dan ada apa dalam tubuhnya sebenarnya.” Disana Yoona terlihat semakin bercahaya dan petir hitam Bit mulai berangsur-angsur hilang, setiap petir yang mengarah ke Yoona pun ikut lenyap dan Yoona tak terluka sedikitpun walau dia sangat dekat dengan Bit.

Perlahan-lahan Bit dan yoona yang tadinya melayang beranjak turun ketanah dan seiring dengan hal itu petir yang menyambar dari tubuh Bit melemah. Saat Bit dan Yoona menginjak tanah. “wind contract,dorongan angin.”

Furin mengeluarkan Contract lalu Angin datang dan mendorong Yoona mengarah ke Furin dan cahaya Yoona menghilang, Yoona entah kenapa menjadi pingsan. “ini saatnya aku bertugas, berikan pedang Zero itu padaku nak!” pinta Furin pada Steve. “ini tuan, tapi sebenarnya untuk apa?” tanya Steve. “sudah kau diam saja dan lihat ini.”

Furin mulai berlari menuju arah Bit dan meloncat ke udara. “pedang zero diaktifkan!!” Furin meluncur kebawah dan menebaskan pedang keleher Bit yang sedang berdiri tak sadarkan diri, alhasil kepala Bit berpisah dari tubuhnya dan bukan darah yang keluar tapi hanya petir-petir hitam menyambar dari bekas tebasan Furin.

Keadaan menjadi hening disana dan hanya ada suara petir yang mendesis. Apakah tugas yang diberikan oleh tuan Phoenix pada tuan Furin adalah untuk membunuh Bit? Dalam hati Steve bertanya-tanya. Kemudian di suasana yang hening itu Steve berteriak pada Furin. “ini sangat tidak adiiiiil!!! Kenapa kau membunuh kak Bit ha? Bukankah Contractnya sudah hilang dan dia tak berbahaya lagi? Apa yang kalian inginkan sebenarnya? Hikz...hikz... kalian kejam sungguh sangat kejam.”

Steve pun roboh dan mulai menangis. “Steve tenang dan lihatlah itu.” Suruh Furin. Kemudian Steve mengangkat kepalanya dan melihat Bit, disana dia melihat petir-petir hitam itu saling tarik-menarik antara petir yang mencuat dari kepala Bit yang ada ditanah dan petir yang mencuat dari leher Bit dan akhirnya kepala itu bersatu lagi.

“ternyata benar bocah ini imortal.” Kata Furin sambil melihat kepala Bit yang menyatu kembali. Setelah menyatu Bit roboh dan petir-petir hitam mulai berhenti dan Furin membawa Yoona dan Bit kerumah sakit.

Kesokan harinya dimarkas besar. “ternyata benar dia imortal?” tanya Kagero. “benar, aku telah menebas kepalanya dengan pedang Zero yang aktif seperti perintah tuan tapi kepalanya masih bisa kembali.” Jelas Furin. “sudah kuduga semua ini benar.” Kata Phoenix sambil membaca sebuah buku.

“oh jadi tuan sudah tau mengenai semua ini, bukankah tuan agak ragu memerintahkanku untuk menebas kepala Bit kemarin?” tanya Furin. “bukan itu yang kumaksud tapi lihat gadis ini, aku menduga bahwa dia masih belasan tahun ternyata benar umurnya sembilan belas tahun hahaha aku memang pintar soal wanita hahaha...”

Phoenix berkata sambil memperlihatkan buku playboy yang dia baca pada Furin dan Kagero. “sudah kubilang kan piram, percuma kita kesini, pasti dia memperlihatkan buku barunya aku sudah tau ini akan terjadi.” Bisik Kagero pada Furin.

“kau benar pak tua, ingatkan aku untuk tidak kemari saat dia punya buku baru” balas furin dengan berbisik pada Kagero dan sementara Phoenix tertawa membaca buku barunya.

Di rumah sakit kota Cortex. “owh jadi begitu ya jadi kemarin aku mengeluarkan petir yang sangat banyak dan menghancurkan laboratorium soalnya aku salah mengambil minuman yang ternyata itu pemicu hyper roh yang membuat aku jadi mempunyai kekuatan yang berlebihan dan akhirnya aku diselamatkan Yoona dan kepalaku ditebas oleh pedang Zero dan aku tidak mati, begitu?

Keren sekali, kenapa kau tak merekamnya?” kata Bit yang sudah sadarkan diri. “aku kemarin sangat ketakutan melihatmu tak sadarkan diri, apakah kau tidak ingat apapun saat itu kak?” tanya Steve. Saat Steve bertanya seperti itu, Bit yang berwajah gembira kemudian menjadi murung.

“sebenarnya aku tidak ingat apa-apa dan yang kuingat hanya cita-citaku yang ingin menemukan ibuku, tapi aku tak pernah mewujudkannya.” “owh begitu ya kak,nanti setelah kau sembuh bagaimana kalau kau segera berlatih supaya menjadi kuat dan memulai ekspedisi mencari ibumu.” Kata steve menyemangati.

“kau bercanda ya? Kenapa menunggu nanti? Aku kan sudah sembuh ayo kita keluar dari tempat berbau obat ini dan mulai berlatih lari cepat.” Lalu Bit beranjak dari tempat tidur dan mulai memakai pakaiannya yang berwarna hijau cerah dengan pola kotak orange di lengannya.

“ini kak aku membawa pedang Zero juga, aku tidak mau meninggalkan pedang langka ini di laboratorium. Ayo kita ke tempat Don Gen dulu aku sangat lapar.”


Sesaat kemudian mereka keluar dari rumah sakit dan menuju ke tempat Don Gen, tapi ditengah perjalanan mereka dihadang oleh Momo van Kaak yang berdiri di pucuk akar berdurinya.

To be continued....

0 komentar:

Posting Komentar